KENDARI – Menghadapi gelombang penyalahgunaan narkoba yang kian kompleks dan terorganisir, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Enam Enam Kendari menjalin aliansi strategis dengan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sulawesi Tenggara.
Penandatanganan Perjanjian Kerjasama ini menandai langkah proaktif perguruan tinggi untuk memperkuat barisan pencegahan dan memastikan lingkungan kampus tetap menjadi ruang akademik yang aman dan berintegritas.
Ancaman narkoba di Sultra disoroti serius, terutama mengingat delapan indikator utama yang diawasi BNN—mulai dari kasus kejahatan, peningkatan jumlah pengguna di usia produktif, hingga beragamnya entry point narkoba dan aktivitas kurir.
Ditambah lima indikator pendukung seperti menjamurnya lokasi hiburan, tingginya privasi tempat kos, dan menurunnya interaksi sosial, membentuk lanskap risiko yang menuntut keterlibatan kampus.
Kampus Sebagai Garda Depan Perlindungan Generasi Muda
Ketua STIE Enam Enam Kendari, Prof. Dr. H. Abdul Azis Muthalib, S.E., M.S., menegaskan bahwa perguruan tinggi harus menjadi garda depan dalam melindungi generasi muda.
“Perguruan tinggi bukan hanya pusat pendidikan, tetapi juga pusat pembentukan karakter dan integritas. Kami berkewajiban melindungi mahasiswa dari ancaman narkotika,” ujar Prof. Azis.
Menurutnya, narkoba bukan sekadar merusak individu, tetapi juga menggerus daya saing dan melemahkan masa depan daerah secara keseluruhan.
Kerja sama dengan BNNP Sultra ini akan berfokus pada empat poros utama: yakni Pencegahan dan Edukasi: Melalui seminar dan pembinaan mahasiswa, Penguatan Program: Mendorong program Kampus Bersinar (Bersih Narkoba), Riset dan Pengabdian: Melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat di bidang pemberantasan narkotika, dan Pengembangan Kapasitas: Memastikan mahasiswa tumbuh sebagai generasi berintegritas.
“MoU ini harus bergerak ke program nyata yang konsisten dan berkelanjutan untuk memastikan lingkungan kampus tetap aman, sehat, dan bebas narkoba,” tegas Prof. Azis.
Di sisi lain, Plh Kepala BNNP Sultra, Agustinus Widdy Harsono, S.Kom., M.Si., menyambut baik kerjasama ini sebagai langkah strategis untuk menghadapi jaringan narkoba yang semakin terstruktur.
“Perang melawan narkoba adalah tanggung jawab seluruh elemen bangsa. Jaringan narkotika hari ini semakin terstruktur dan tidak bisa dihadapi sendirian,” kata Agustinus.
Ia menyoroti pentingnya peran perguruan tinggi dalam membangun ketahanan remaja anti narkoba, mengingat mahasiswa berada pada kelompok usia yang paling rentan menjadi target jaringan pengedar.
Melalui pemanfaatan sumber daya secara optimal, BNNP Sultra berharap sinergi ini mampu menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih tahan terhadap infiltrasi jaringan gelap.
“Kami ingin menciptakan lingkungan pendidikan yang benar-benar bersih dari narkoba melalui penguatan program P4GN dan Kampus Bersinar,” pungkasnya.
Agustinus menekankan bahwa soliditas, integritas, dan sinergitas adalah pondasi utama dalam menghadapi ancaman narkoba yang semakin kompleks.
Aliansi ini menjadi simbol bahwa perang melawan narkoba telah memasuki babak baru yang lebih strategis, yaitu pencegahan berbasis pendidikan dan penguatan karakter, mendorong kampus untuk tidak hanya mendidik tetapi juga menjaga dan membentuk ketahanan mental mahasiswa.
Editor : Agus Setiawan












