Ekonomi & Bisnis

Jamin Kesejahteraan Petani di Kendari, Bulog Sultra Serap Gabah Sesuai HPP

91
×

Jamin Kesejahteraan Petani di Kendari, Bulog Sultra Serap Gabah Sesuai HPP

Sebarkan artikel ini

Kendari — Perum Bulog Sulawesi Tenggara (Sultra) memastikan akan terus menjaga stabilitas harga gabah di tingkat petani. Hal ini diungkapkan Kepala Bulog Sultra, Benhur Ngkaimi, menyusul kegiatan penyerapan hasil panen di Kota Kendari.

Benhur Ngkaimi menjelaskan bahwa dari potensi produksi di lahan seluas 300 hektar di Kendari yang diprediksi mencapai kurang lebih 1.500 ton gabah, Bulog baru menyerap sekitar 50 ton.

“Artinya, pemerintah itu menjaga harga di tingkat petani. Jika harganya di bawah Rp 5.500, petani wajib masuk (menjual ke Bulog). Tetapi jika harganya lebih dari Rp 6.500, petani bebas untuk menjual,” tegas Benhur.

Ia menekankan bahwa Bulog tidak boleh mengintervensi harga jika sudah berada di atas ketetapan pemerintah.

Harga acuan yang ditetapkan pemerintah untuk Gabah Kering Panen (GKP) adalah Rp 6.500 per kilogram.

Benhur menyatakan komitmennya untuk terus menyerap langsung ke petani agar tidak ada harga yang jatuh di bawah batas wajar.

Edukasi Kualitas Gabah dan Kebutuhan Dryer Mendesak

Meskipun Bulog berkomitmen penuh, Benhur mengakui adanya tantangan terkait kualitas gabah.

“Kami terus melakukan sosialisasi kepada petani bahwa gabah yang dijual itu adalah benar-benar gabah. Selama ini kadang-kadang juga harus kita berikan sosialisasi, begitu gabah campur dengan apanya semua, maunya mereka dibeli Rp 6.500,” jelasnya.

Lebih lanjut, Benhur menyampaikan usulan mendesak kepada Pemerintah Kota Kendari yang nantinya diteruskan ke Kementerian Pertanian, terutama menjelang panen rendengan yang beriringan dengan musim hujan.

“Di sini kapasitas dryer kita itu masih kurang. Kami pun jujur tidak bisa menampung produksi sebesar ini jika pada saat kering. Itu yang paling relatif. Kalau giling itu relatif tidak urgen, karena kalau sudah gabah kering giling disimpan berapa lama pun boleh. Tapi yang rawan itu adalah pada saat panen dan sampai kering. Jika terlambat pengeringan, gabahnya akan rusak,” ungkap Benhur, seraya menambahkan bahwa kerusakan akan otomatis menurunkan harga jual petani.

Apresiasi Sawah di Ibu Kota Provinsi

Meskipun kontribusi padi Kota Kendari secara persentase masih kecil dibanding total areal Sulawesi Tenggara yang mencapai 100-an ribu hektar, Benhur Ngkaimi memberikan apresiasi.

“Kita wajib berbangga sebagai penduduk Kota Kendari, sebuah kota, ibu kota provinsi, itu punya sawah di areal ini,” pungkasnya.

Penulis : Agus Setiawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *