BERITA INDONESIA – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Tenggara melaporkan bahwa pada Desember 2025, wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra) mengalami inflasi Year on Year (y-on-y) sebesar 2,86 persen.
Angka ini mencerminkan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 106,56 pada tahun sebelumnya menjadi 109,61 pada akhir tahun 2025.
Secara kewilayahan, dari empat kabupaten/kota yang dipantau, seluruhnya mengalami inflasi. Kabupaten Kolaka mencatatkan tingkat inflasi tertinggi sebesar 3,45 persen dengan IHK 110,64.
Sementara itu, Kota Baubau menjadi wilayah dengan inflasi terendah, yakni sebesar 2,07 persen.
Inflasi tahunan ini didorong oleh kenaikan harga di sebagian besar kelompok pengeluaran. Sektor yang memberikan andil signifikan meliputi Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau: Mengalami inflasi sebesar 3,84 persen.
Komoditas utama yang menyumbang inflasi di sektor ini adalah beras, ikan layang, ikan bandeng, dan rokok (Sigaret Kretek Mesin).
Selanjutnya, Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya: Mencatatkan inflasi tertinggi secara persentase, yakni mencapai 9,78 persen.
Emas perhiasan menjadi komoditas dominan yang memberikan andil inflasi sangat besar di kelompok ini, yaitu 0,70 persen.
Kemudian, Kelompok Pendidikan: Mengalami kenaikan sebesar 5,05 persen, yang dipicu oleh kenaikan uang kuliah di akademi atau perguruan tinggi.
Terakhir, Transportasi: Memberikan andil sebesar 0,31 persen, didorong oleh tarif angkutan udara, harga mobil, dan sepeda motor.
Di sisi lain, terdapat beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga (deflasi) sehingga membantu meredam laju inflasi lebih lanjut.
Beberapa di antaranya adalah tomat, ikan cakalang, ikan teri, ikan mujair, dan tempe. Kelompok pakaian dan alas kaki juga tercatat mengalami deflasi sebesar 0,81 persen.
Untuk perbandingan jangka pendek, inflasi month-to-month (m-to-m) Desember 2025 terhadap November 2025 tercatat sebesar 0,22 persen.
Komoditas utama yang memicu kenaikan harga selama bulan Desember antara lain emas perhiasan, cabai rawit, beras, dan bawang merah.
Pemerintah daerah diharapkan terus memantau stabilitas harga, terutama pada komoditas pangan dan transportasi yang menjadi kebutuhan vital masyarakat, guna menjaga daya beli warga Sulawesi Tenggara di masa mendatang.
Editor : Agus Setiawan












