Bulan suci Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menjadi ruang refleksi untuk membersihkan hati, memperbaiki diri, dan memperkuat kepedulian terhadap sesama.
Hal tersebut disampaikan oleh Ferry Irawan, Komisaris Utama PT Berita Sultra Indonesia, yang menilai Ramadan sebagai momentum penting untuk membangun kualitas spiritual sekaligus sosial.
Menurutnya, ibadah puasa mengajarkan makna kesabaran, keikhlasan, serta pengendalian diri dari hal-hal yang dapat merusak nilai kemanusiaan.
Ramadan adalah madrasah kehidupan. Kita dilatih bukan hanya menahan hawa nafsu, tetapi juga menahan amarah, menjaga lisan, dan memperbanyak empati.
Ferry menekankan bahwa hikmah Ramadan seharusnya tercermin dalam perilaku sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, tempat kerja, maupun dalam kehidupan bermasyarakat.
“Puasa sejati bukan hanya soal fisik, tetapi bagaimana kita mampu menjadi pribadi yang lebih jujur, lebih peduli, dan lebih bermanfaat bagi orang lain,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya meningkatkan kepedulian sosial, terutama kepada masyarakat yang membutuhkan. Tradisi berbagi, seperti sedekah dan santunan, dinilai menjadi bagian dari esensi Ramadan yang memperkuat solidaritas.
Ramadan mengingatkan kita bahwa di sekitar kita masih banyak saudara yang membutuhkan perhatian. Di sinilah nilai kemanusiaan diuji.
Lebih jauh, Ferry berharap semangat Ramadan tidak berhenti setelah bulan suci berakhir, melainkan menjadi fondasi untuk menjaga integritas, mempererat persaudaraan, dan menciptakan lingkungan sosial yang lebih harmonis.
Jika hikmah Ramadan benar-benar kita resapi, maka setelah Ramadan pun kita tetap menjadi pribadi yang lebih baik. **












