KONAWE SELATAN – Tim Pengabdian Universitas Halu Oleo (UHO) sukses melaksanakan program pemberdayaan masyarakat di Desa Amoito, Kabupaten Konawe Selatan.
Program ini berfokus pada pemanfaatan limbah sekam padi yang melimpah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi, yakni batako ramah lingkungan dengan kualitas konstruksi unggul.
Langkah ini diambil sebagai solusi atas persoalan limbah pertanian di Desa Amoito. Selama ini, limbah sekam padi dari lahan persawahan seluas 150 hektar yang mencapai 390 ton per tahun hanya dibakar atau dijual murah.
Hal ini tidak hanya menyia-nyiakan potensi ekonomi, tetapi juga memicu polusi udara akibat pembakaran terbuka.
Ketua tim pelaksana, Rini Sriyani, ST., MT., menjelaskan bahwa kunci dari inovasi ini terletak pada kandungan silika dalam abu sekam padi yang mencapai 90–98%.
Kandungan ini sangat potensial untuk meningkatkan kekuatan material bangunan. Dalam pelatihan intensif yang diikuti oleh 20 penjual abu sekam padi, tim UHO memperkenalkan formulasi khusus yakni 30% Semen, 55% Pasir, dan 15% Abu Sekam Padi.
“Berdasarkan uji laboratorium, formulasi ini terbukti meningkatkan kuat tekan batako hingga 28,5% dibandingkan batako biasa di pasaran. Produk ini juga telah memenuhi mutu Standar Nasional Indonesia (SNI) 03-0349-1989,” ujar Rini.
Program yang berlangsung selama delapan bulan ini tidak hanya menyentuh aspek teknis, tetapi juga manajemen bisnis dan teknologi tepat guna.
Teknologi: Anggota tim, Prinob Aksar, ST., MT., mengungkapkan bahwa tim tengah mengembangkan prototipe alat cetak batako hidrolik. Alat ini diproyeksikan mampu mencetak 500–1.200 unit per hari, atau tiga kali lipat lebih cepat dibandingkan metode manual.
Ekonomi: Dari sisi manajemen, Dr. Tuti Dharmawati, S.E., M.Ak., menekankan pentingnya mengubah pola pikir masyarakat.
“Warga kini mulai melihat prospek usaha berkelanjutan yang dapat meningkatkan kesejahteraan, bukan sekadar membuang limbah,” ungkapnya.
Program yang melibatkan mahasiswa Slamet dan Muhammad Arfandi ini mendapat sambutan hangat.
Sardin, salah satu peserta, mengaku mendapatkan perspektif baru. “Limbah yang dulu kami anggap tidak bernilai, ternyata bisa membuka peluang usaha baru,” tuturnya.
Kepala Desa Amoito juga mengapresiasi langkah UHO ini karena dinilai mampu membuka lapangan kerja baru bagi generasi muda desa serta menjadi model ekonomi sirkular yang dapat dicontoh oleh desa lain di Sulawesi Tenggara.
Editor : Agus Setiawan












