Metro Kota

Inovasi BPP Wuawua Kendari, Ubah Limbah Kulit Bawang Jadi Pestisida Sekaligus Penyubur Tanaman

1658
×

Inovasi BPP Wuawua Kendari, Ubah Limbah Kulit Bawang Jadi Pestisida Sekaligus Penyubur Tanaman

Sebarkan artikel ini
Kadis Pertanian Kota Kendari, Makmur bersama jajaran memperlihatkan inovasi olahan limbah kulit bawang menjadi pestisida nabati yang sekaligus berfungsi menyuburkan tanaman. Foto : Agus Setiawan.

KENDARI – Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Wuawua Kota Kendari menunjukkan inovasi luar biasa dalam mendukung program “Kendari Berkebun” dan pengembangan sektor pertanian urban.

Mereka berhasil mengolah limbah kulit bawang menjadi pestisida nabati yang sekaligus berfungsi menyuburkan tanaman, sebuah terobosan yang diaplikasikan langsung pada lahan sempit di wilayah Wuawua dan Kadia.

Kordinator BPP Kecamatan Wuawua Firman Sofyan bersama Kabid Perkebunan dan Holtikultura Distan Kendari, Zulkarnaim memperlihatkan berbagai produk UKM Binaan BPP Kecamatan Wuawua. Foto : Agus Setiawan.

Kepala Dinas Pertanian (Kadis Distan) Kota Kendari, Makmur, mengapresiasi inovasi yang dilakukan oleh Koordinator BPP Wuawua, Firman Sofyan, bersama timnya.

“Inovasi yang dilakukan oleh teman-teman di BPP Wuawua ini yang pertama, bagaimana mereka memanfaatkan limbah kulit bawang menjadi pestisida nabati yang sekaligus juga bisa menyuburkan tanaman,” ujar Makmur, Jumat (17/10/2025).

Ia menambahkan bahwa hasil aplikasi inovasi tersebut terlihat jelas, dengan tanaman di lokasi BPP yang tampak subur dan tertata artistik, meski lahan yang digunakan sangat sempit.

Program “Kendari Berkebun” sendiri di wilayah Wuawua dan Kadia diimplementasikan dalam bentuk urban farming dengan memaksimalkan pemanfaatan pekarangan rumah, sebuah edukasi penting bagi ibu-ibu rumah tangga untuk mengatasi fluktuasi harga sayuran.

“Di Kadia dan Wuawua itu kalau pertaniannya itu jenisnya urban farming. Dan alhamdulillah ibu-ibu itu karena mereka melihat dulu setelah melihat baru mereka praktikan. Jadi kalau kita bisa jalan-jalan ke Kadia, ke Wuawua itu semuanya modelnya begini,” jelas Firman Sofyan, Koordinator BPP Kecamatan Wuawua.

Selain inovasi pestisida dari kulit bawang, BPP Wuawua juga aktif dalam pembinaan pasca panen, seperti perajin keripik bawang goreng, keripik pisang, hingga produk olahan lainnya seperti wedang susu dan crispy sago cake.

Namun, keberhasilan ini diiringi tantangan serius terkait kekurangan sumber daya. Saat ini, BPP Wuawua membawahi dua kecamatan, yakni Wuawua dan Kadia, dengan total 61 kelompok tani (32 di Wuawua dan 29 di Kadia).

“Sementara tenaga penyuluh kita hanya empat orang dengan koordinatornya. Jadi keterjangkauan pendampingan kelompok-kelompok tani itu tidak sebanding dengan jumlah kelompok tadi dengan penyuluh,” kata Kadis Makmur.

Kadis Pertanian Kota Kendari, Makmur memperlihatkan hasil panen BPP Kecamatan Wuawua. Foto : Agus Setiawan.

Makmur mengungkapkan bahwa penambahan unit BPP dan tenaga penyuluh sangat dibutuhkan, bahkan pihaknya berencana mengusulkan penambahan kantor untuk menunjang kegiatan BPP.

Kota Kendari sendiri saat ini hanya memiliki dua BPP yang merangkap dua kecamatan, yaitu BPP Abeli dan BPP Wuawua. Idealnya, dibutuhkan dua BPP lagi untuk sembilan kecamatan di Kendari, serta kantor pusat BPP untuk mengoordinasi seluruh kegiatan BPP di Kota Kendari.

Penulis : Agus Setiawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *