Ekonomi & Bisnis

Dinas Ketahanan Pangan Kendari Gencarkan Gerakan Pangan Murah Mandiri Tanpa APBD

116
×

Dinas Ketahanan Pangan Kendari Gencarkan Gerakan Pangan Murah Mandiri Tanpa APBD

Sebarkan artikel ini
Kepala Dinas Ketapang Kota Kendari Abdul Rauf mendampingi Wali Kota Kendari Siska Karina Imran meninjau pelaksanaan Gerakan Pangan Murah di Kota Kendari beberapa waktu lalu.

KENDARI – Dinas Ketahanan Pangan (Dinas Ketapang) Kota Kendari terus memperkuat ketahanan pangan masyarakat melalui berbagai inisiatif, termasuk Gerakan Pangan Murah (GPM) yang kini lebih banyak dijalankan secara mandiri.

Menurut Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Kendari, Abdul Rauf, GPM mandiri ini berinisiatif sendiri, tanpa menggunakan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).

“Sejak Januari hingga September ini, kami sudah melakukan lebih dari 62 kali GPM. Hampir setiap hari kami mengadakan gerakan pangan murah mandiri. Artinya, kami berinisiatif sendiri. Saya selaku kepala dinas dan bekerja sama dengan Perum Bulog,” ujar Abdul Rauf, Rabu (17/09/2025).

Ia menambahkan, dalam GPM mandiri ini, Bulog langsung bergerak mendistribusikan beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) ke masyarakat.

Dengan skema ini, pelaksanaan GPM dapat lebih cepat dan efisien. Abdul Rauf mencontohkan, pada GPM di Kelurahan Watu-watu, 2,5 ton beras atau 500 karung habis terjual.

“Masyarakat merasa senang dan sampai hari ini tadi di Kelurahan Watu-watu, kami melakukan GPM. Kami bawa kurang lebih 2,5 ton beras, dan informasi dari petugas lapangan kita habis terjual,” katanya.

Berdasarkan data yang ada, dari total pelaksanaan GPM, sebanyak 12 titik dilaksanakan secara mandiri, 14 titik merupakan gabungan APBD dan CSR Bank Indonesia (BI), sedangkan 40 titik sisanya menggunakan APBD.

Hal ini menunjukkan komitmen Dinas Ketahanan Pangan untuk terus memberikan akses pangan yang terjangkau bagi masyarakat, bahkan tanpa mengandalkan penuh pada APBD.

Inovasi Lain: Kios Pangan hingga Pondok Pesantren

Selain GPM, Dinas Ketahanan Pangan juga terus berinovasi untuk menjamin ketersediaan pangan di masyarakat.

Hingga kini, sudah ada 130 kios pangan yang aktif. Rauf juga menargetkan perluasan program ke pondok-pondok pesantren.

“Kami ingin membantu meringankan kebutuhan pangan di pondok pesantren. Kami akan bentuk kelompok pangan di sana dan bekerja sama dengan Bulog untuk menyuplai beras SPHP,” jelas Rauf.

Ia berharap, pondok pesantren nantinya tidak hanya memenuhi kebutuhan santri, tetapi juga menjadi pusat penjualan beras bagi masyarakat sekitar.

“Bahkan arahnya nanti bisa ada semacam ‘Martangan’ (mart pangan) yang berorientasi keagamaan,” tambahnya.

Rauf juga menyoroti pentingnya diversifikasi pangan lokal untuk menghadapi fluktuasi harga beras di masa mendatang.

Ia berencana menggelar sosialisasi tentang pangan lokal sebagai pengganti nasi. Selain itu, ada program Teras B2SA (Beragam, Bergizi, Sehat, dan Aman) yang mendorong masyarakat untuk memanfaatkan pekarangan rumahnya untuk menanam komoditas seperti cabai, tomat, dan terong.

“Kami akan berikan bibit tanaman yang sudah siap panen kepada masyarakat, sehingga mereka hanya tinggal merawat. Ini bisa mengurangi beban ekonomi dan memastikan keluarga mendapatkan pangan yang beragam, bergizi, sehat, dan aman tanpa mengeluarkan biaya,” pungkasnya.

Laporan : Agus Setiawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *