Nasional

Transformasi Lapas Nusakambangan: Warga Binaan Produksi Material Konstruksi Bernilai Tinggi dari Limbah PLTU

111
×

Transformasi Lapas Nusakambangan: Warga Binaan Produksi Material Konstruksi Bernilai Tinggi dari Limbah PLTU

Sebarkan artikel ini
Warga binaan di Lapas Nusakambangan memanfaatkan Faba sebagai bahan baku pembuatan paling blok. Program ini dihadirkan PT PLN untuk warga binaan.

Cilacap, Jawa Tengah — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Nusakambangan, Cilacap, kini bertransformasi menjadi pusat pemberdayaan ekonomi.

Melalui program kolaborasi antara Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) dan PT PLN (Persero), warga binaan dibekali keterampilan mengolah limbah pembakaran batu bara, yaitu Fly Ash dan Bottom Ash (FABA), menjadi produk konstruksi bernilai ekonomi tinggi.

Sebelumnya, FABA sering kali dianggap sebagai limbah tak bernilai. Namun, melalui program ini, limbah tersebut kini diolah menjadi beragam produk konstruksi, seperti batako, paving block, roaster, dan buis beton.

Workshop pengelolaan FABA yang memanfaatkan lahan tidur di Nusakambangan ini menjadi bukti nyata perubahan citra lapas dari sekadar “penjara menakutkan” menjadi institusi yang membekali warga binaan untuk kehidupan yang lebih produktif pasca-pembinaan.

Salah satu warga binaan, Kevin Ruben Rafael, mengungkapkan rasa syukurnya atas program ini.

“Ini sangat membantu kami sebagai warga binaan, karena menambah ilmu pengetahuan. Nanti, ketika kami keluar, ilmu ini bisa bermanfaat bagi kehidupan kami di masyarakat,” ujarnya.

Menteri Imipas, Agus Andrianto, mengapresiasi kontribusi PLN dalam program pelatihan ini.

“Program ini merupakan model pelatihan kerja yang sedang kami galakkan untuk mempersiapkan warga binaan agar siap kembali ke masyarakat,” kata Agus saat meninjau langsung lokasi workshop.

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menuturkan bahwa pemanfaatan FABA ini tidak hanya menciptakan peluang ekonomi sirkuler, tetapi juga memberikan solusi nyata bagi lingkungan.

“Kami bangga, warga binaan Lapas Nusakambangan berhasil memanfaatkan limbah menjadi komoditas produktif. Kegiatan ini juga menciptakan lapangan kerja, memberi dampak positif bagi masyarakat, serta menghasilkan produk berkualitas dengan harga kompetitif,” ungkap Darmawan.

Saat ini, workshop FABA di Nusakambangan dilengkapi dengan dua unit mesin yang memiliki kapasitas produksi hingga 2 juta paving block dan 1 juta batako per tahun.

Dengan kapasitas optimal, workshop ini berpotensi menghasilkan omzet hingga Rp5,4 miliar per tahun.

Darmawan menambahkan bahwa 30 warga binaan telah aktif terlibat dan menunjukkan etos kerja yang tinggi. Ia optimistis jumlah ini akan terus bertambah.

Keberhasilan ini diharapkan dapat menjadikan Nusakambangan sebagai percontohan nasional bagi lapas lain, sebagai episentrum kegiatan ekonomi dan pusat pemberdayaan masyarakat.

Editor : Agus Setiawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *