Kendari, Sulawesi Tenggara – Setelah 33 tahun menunggu, Sulawesi Tenggara (Sultra) kini resmi menjadi tuan rumah penyelenggaraan Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadits Nasional (STQHN) ke-28 tahun 2025.
Perhelatan akbar ini diluncurkan secara resmi oleh Wakil Gubernur Sultra, Hugua, bersama jajaran pejabat dari Kementerian Agama RI, pemerintah daerah, dan unsur terkait lainnya, di Hotel Azizah Syariah Kendari, Selasa (9/9/2025).
Mengusung tema “Syiar Al-Qur’an dan Hadits Merawat Kerukunan Melestarikan Lingkungan”, STQHN ke-28 akan digelar pada 8 hingga 19 Oktober 2025.
Rencananya, acara ini akan dibuka langsung oleh Presiden RI pada 11 Oktober dan ditutup oleh Wakil Presiden RI pada 18 Oktober.
Kakanwil Kemenag Sultra, H. Muhamad Saleh, menyatakan kesiapannya untuk menyukseskan acara ini.
“Kanwil Kemenag Sultra bersama Pemprov, siap menyukseskan penyelenggaraan STQH Nasional ke-28 Tahun 2025. Kita berharap, semoga STQHN di Sultra tidak hanya sukses pelaksanaan, namun juga sukses prestasi,” ujarnya.
Penyelenggaraan STQHN ini diperkirakan akan dihadiri oleh 1.027 peserta, serta ribuan undangan dan kafilah dari seluruh penjuru Nusantara, sehingga totalnya mencapai lebih dari 3.200 orang.
Enam Lokasi Lomba Jadi Venue Utama
STQHN ke-28 yang dipusatkan di Kota Kendari akan menggunakan enam lokasi utama sebagai tempat perlombaan:
* Tugu Persatuan Sultra: Arena utama untuk lomba tilawah anak-anak dan dewasa.
* Aula Kampus IAIN Kendari: Lomba hafalan Al-Qur’an 1 dan 5 juz.
* Aula Inspektorat Sultra: Lomba hafalan Al-Qur’an.
* Aula BPMP Sultra: Lomba hafalan Al-Qur’an 30 juz dan tafsir bahasa Arab.
* Aula Dinas Pendidikan: Lomba hafalan 100 dan 500 hadits.
* Aula Kanwil Kemenag Sultra: Lomba karya tulis ilmiah hadits.
Untuk menambah kemeriahan, akan diadakan Pawai Taaruf dan pameran yang akan berlangsung dari 11 hingga 18 Oktober 2025.
Logo resmi STQHN ke-28 yang telah diluncurkan memiliki makna mendalam yang mencerminkan jati diri Sultra.
Simbol Quba melambangkan kemuliaan Islam, Tugu Persatuan merepresentasikan keragaman Sultra, sementara Mushaf Al-Qur’an dan tangan berdoa menjadi simbol petunjuk dan harapan bagi bangsa.
Editor : Agus Setiawan












