Nasional

GPA Sulawesi Tenggara Tolak Organisasi Pemuda Lintas Iman, Pertanyakan Kebijakan Presiden

167
×

GPA Sulawesi Tenggara Tolak Organisasi Pemuda Lintas Iman, Pertanyakan Kebijakan Presiden

Sebarkan artikel ini
GPA Sulawesi Tenggara menolak keberadaan organisasi lintas Islam.

KENDARI – Gerakan Pemuda Al Washliyah (GPA) Sulawesi Tenggara secara tegas menyatakan penolakannya terhadap keberadaan organisasi pemuda lintas iman.

Sikap ini disampaikan langsung oleh Ketua GPA Sulawesi Tenggara, Muhammad Iksan Saranani, yang secara terbuka mempertanyakan kebijakan Presiden RI Prabowo Subianto dan Kementerian Agama terkait organisasi tersebut.

Menurut Iksan, pertemuan Presiden Prabowo dengan beberapa perwakilan organisasi pemuda lintas iman baru-baru ini telah menimbulkan pertanyaan besar bagi pemuda lainnya di Indonesia.

“Apakah organisasi kepemudaan lainnya di republik ini tidak beriman?” ujar Iksan, mempertanyakan landasan dari pemilihan organisasi yang dipanggil oleh negara.

Tuntutan Kebebasan Beragama dan Isu Demo

Iksan juga mengaitkan isu organisasi pemuda lintas iman dengan demonstrasi yang terjadi di Jakarta beberapa waktu lalu.

Ia mempertanyakan tuntutan yang diajukan dalam demo, seperti kebebasan beragama dan kemudahan pendirian rumah ibadah.

“Apakah selama ini negara dan pemerintah tidak memberikan kita kebebasan dalam beragama? Sebaliknya, pemerintah justru telah banyak memberikan kebebasan dalam beragama dan membantu mendirikan rumah-rumah ibadah sesuai dengan keyakinan masing-masing,” kata Iksan, menolak anggapan bahwa kebebasan beragama di Indonesia dibatasi.

Mendesak Pemerintah Rangkul Semua Organisasi Pemuda

Dalam pernyataannya, Iksan mendesak pemerintah dan negara untuk merangkul semua organisasi kepemudaan yang ada di Indonesia, terutama di tengah situasi yang ia sebut “tidak baik-baik ini.”

“Tujuannya adalah untuk meyakinkan kepada pemuda bahwa negara menjamin keamanan, kenyamanan, dan kesejahteraan rakyat,” jelasnya.

Ia juga mengkritik pemerintah yang dinilai hanya memanggil sebagian organisasi kepemudaan saja, seolah-olah organisasi lain tidak beriman dan tidak berkontribusi pada negara.

GPA Sulawesi Tenggara menegaskan bahwa penolakan ini akan berlanjut sampai Presiden dan Kementerian Agama memberikan penjelasan yang jelas dan transparan mengenai alasan di balik kehadiran organisasi pemuda lintas iman.

Mereka menganggap organisasi tersebut telah “menyinggung perasaan” pemuda lain yang juga telah memberikan sumbangsih pada negara.

Editor : Agus Setiawan 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *